Kamis, 22 Desember 2011

Seni Berbicara Retorika Dakwah




Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidipan masyarakat terutama di kalangan pelajar. Berbicara adalah kemampuan merangkai kata-kata agar pendengar mudah memahami dan mengerti maksud dari pembicarran si pembicara.
Retotika adalah seni berbicara atau kemampuan merangkai kata-kata dengan maksud agar pendengar mudah memahami, retorika dalam berbicara sngat penting dimiliki, karena keluessan dalam berbicara sangat penting jika memiliki retotika yang baik. Berbagai aturan dalam berretorika.
Menjadi seorang pembicara yang handal harus mampu atau pintar-pintar memahami situsi lawan bicara serta mampu menyesuaikan dimana dan dalam situasai apa ketika kita sedang berbicara. Ketika seseorang memilki keamapuan untuk berbicara maka pembicaraan akan terarahkan, biasanya seorang pembicara juga memiliki pengetahuan yang luas serta lues dalam pergaulan sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga maupun di masyarakat.
Pengetahuan dan wawasan yang luas sangat mempengaruhi kelancaraan dalam berbicara. Biasanya seorang yang kemampuan berbicaranya baik memiliki wawasan yang luas, karena kebanyakan jika si pembicara mendapat sanggahan dari lawan bicara ia akan menggunakan berbagai alasan untuk memperkuat argumennya. Alasan yang dikemukakan tentu berdasarkan pengalama yang ia dapatkan, bukan hanya sekedar mengelak dari sanggahan lawan bicara saja.
Sebagian besar orang yang memilki kemampuan berretorika atau berbicara, sudah memilki tujuan pembicaraan sebelum memulai berbicara di depan umum. Tanpa tujuan pembicarran terlebih dahulu maka pembicara akan susah untuk membatasi pembicaraannya, yakni untuk menghindari kesan bertele-tele dalam berbicara. Pembicaraan akan menjadi tidak menarik jika kesannya berlebihan dan lari dari tujuan pembicaraan. Semua manusia memiliki kemampuan untuk berbicara, terkecuali seorang yang cacat sejak lahir (tuna wicara), namun tidak semua orang dapat berbicara dengan baik. Semua itu di sebabkan oleh berbagai factor. Seorang yang memiliki kemampuan berbicara namun tidak dapat menempatkan pembicaraannya pada tempatnya, seorang yang menggunakan kemampuan berbicaranya namun pembicaraannnya tidak memiliki manfaat.

Dalam berbicara tidak semua pembicaraan bermanfaat bagi diri sendiri maupaun orag lain. Berbicara disini yakni berbicara yang menghasilkan pengetahuan baru atau berbicara yang dimaksud adalah memiliki manfaat dan bukan hanya sekedar mengeluarkan bunyi ujaran pada seseorang atau khalayak ramai tanpa melihat unsure tujuan pembicaraannya.
Contoh retorika yang baik diantaranya sebagai berikut:
1. Berbicara dalam forum diskusi untuk memecahkan suatau masalah. Yakni berhubungan dengan pengetahuan atau bidang lai yang penting untuk diselesaiakan.
2. Berbicara dalam sebuah pidato dalam suasana resmi, memberi pengetahuan kepada orang lain berbagi ilmu dengan menggunakan retorika yang baik.
3. Berbicara dalam hal menjadi tutor bagi mereka yang belum begitu paham terhadapa suatu hal atau tema tertentu.
4. Berbicara dengan unsur dakwah. Yakni memberi pengetahuan atau diskusi tentang ajaran islam dan mengenai syiar islam.
        Selain itu masih banyak lagi jenis berbicara yang bermanfaat, sebagai mahasiswa tentunya sudah bisa menilai dan memilah mana hal yang baik untuk dibicarakan dan mana hal yang buruk untuk dibicarakan.
         Retorika dakwah atau bias juga dikatakan berpidato atau bias juga disebut sebagai ceramah agama. Ini memilki manfaat yang banyak, selain kita mendalami ilmu tentang agama juga melatih kita untuk berani tampil dan tidak gugup untuk berbicara di depan umum.
         Seperti yang kita ketahui retorika sering dianggap berbicara omong kosong atau permainan kata-kata belaka. Karena kebanyakan kemampuan beretorika tidak digunakan dengan baik, kemampuan bebicara tidak digunakan dalam berbicara yang baik dan memiliki manfaat bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. 
Retorika dalam berdakwah bukan hanya sekedar memiliki kemampuan untuk menyampaikan informasi pada orang lain mengenai ilmu agama. Melainkan juga mampu memahami situasai lawan bicara, pengetahuan yang luas, dan memiliki wawasan yang luas pula.
Berbagai faktor yang menyebabkan berbicara atau berretorika menjadi tidak bermanfaat yakni:
1. Kebiasaan ketika berbicara tidak membatasi materi pembicaraan atau pokok permasalahan yang sedang dibicarakan.
2. Tidak memahami kondisi lingkungan dan situasi lawan bicara.
3. Pembicaraan yang tidak penting dibahas justru dibesar-besarkan dan tidak ada penyelesaiannnya.
4. Membicarakan kejelekan orang lain, lari dari topik permasalahan yang sedang dibicarakan.
Dalam retorika dakwah, penyampaian mengenai ajaran-ajaran dalam islam termasuk salah satu cara untuk menghilangkan citra berorika yang sering dianggap hanya omong kosong belaka. Didalam retorika dakwah sumber atau dasar yang menjadi pegangan si pembicara yakni berasala dari Al-Qur’an dan Hadist. Tidak akan mungkin seseorang yang melakukan retorika dakwah atau ceramah, menyampaikan pengetahuan mengenai agama tidak di dasarkan oleh sesuatu yang kuat dan nyata. 
Seorang yang berceramah tidak akan mengada-ngada dalam menyiarkan agamanya kepada saudara sesama muslim. Tentunya seorang yang berceramah tentang agama, dia sudah memilki ilmu yang tinggi tentang hal yang ia bicarakan dan pegangan yang kuat terhadap sumber yang ia kaji dalam ajarannya.
Retorika dakwah tidak dilakukan oleh sembarang orang, biasanya para ulama atau tokoh-tokoh agama yang melakukan retorika tersebut. Melaui retorika dakwah dapat dibuktikan bahwa tidak semua retorika itu merupakan omong kosong belaka.
Masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk tidak menjadikan berretorika itu sebagai omong kosong belaka, misalkan dengan mengadakan orasi ilmiah yang berdasarkan atauran islam. Bukan orasi yang sekedar berteriak dijalan dan tidak mendapat respon apa-apa dari pemerintah. Atau dengan mengadakan debat akademik yang menambah pengetahuan kita dan menambah keluesan kita dalam berbiacara yang memiliki manfaat. Serta menghilangkan kebiasaan berbicara yang tidak baak atau tidak penting untuk dibicrakan terutama menggunjing orang lain.

ABSTRAK
berbicara atau berretorika merupakan kemampuan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan pada lawan bicara baik dalam situasi formal maupun dalam situasi nonformal. Kemampuan berbicara dimmilki oeah setiap manusia kecuali mereka yang cacat pada indra pengucapanya. Seorang pembicara yang handal memiliki emampuan memahi situasi lawan bicara serta pengetahuan dan wawasan yang luas. 
Seseorang tidak akan dapat berretorika dengan baik jika pengetahuannya hanya sedikit, pengetahuan diperoleh berdasarkan pengalaman yang dimiliki pembicara. Berbicara mengenai retorika dakwah yakni berbicara mengenai penyampaian ajaran-ajaran tentang islam dalam metode ceramah, dan retorika dakwah dilakukan oleh orang yang memang ahli dalam bidang agama dan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi mengenai agama islam serta landasan yang digunakan adalah Al-Qur’an dan Hadits.
 










0 komentar:

Poskan Komentar